Rabu, 03 Desember 2014

Karya Sastra





Ramadhan Ayah

            Ramadhan selalu membuat kampung kami bergairah. Orang orang seprti berlomba memperbanyak ibadah. Bahkan, banyak diantara mereka yang sebelumnya tak pernah datang kemasjid, tiba tiba dibulan ramadhan ini rajin ke masjid. Tetapi sayang, Ayah, laki laki tua yang suka mendengus dan meludah tetap tidak berubah. Setiap malam, Ayah masih suka begadang di gardu ronda dekat pasar, sibuk memelototi kartu ceki dan sedikit minum alcohol; mabuk. Pulang jam 5 pagi dengan langkah gontai danb mata merah, berpapasan dengan oprang-orang yang baru pulang dari masjid.
            Kami, anak-anaknya, sebenarnya malu melihat tingkah laku ayah. Tetapi, la,I tak berani memperingtkannya. Kecuali, kami siap mendapat tamparan di pipi dan tendangan di pantat. Dan begitulah, kami: aku dan kedua adikku, tumbuh sebagai anak-anak yang terkesan pendiam dan patuh kepada orang tua. Meski kepatuhan kami, terutama kepada ayah, karena terpaksa. Tetapi, itu tidak masalah. Karena bagi kami, yang terpenting adalah menghindari tamparan dan caci maki ayah yang mengundang perhatian tetangga kanan kiri. Dan itu artinya kami tidak menyakiti perasaan ibu. Sebab, diantara kami, ibulah yang paling banyak menanggung malu jika ayah marah-marah sampai mengeluarkan kata-kata kasar dan jorok.
            Ibu adalah kesejukan embun dipagi hari. Tatapanm matanya menentramkan hati kami. Menyegarkan kekeringan jiwa kami. Ibu laksana batu karang yang berdiri kokoh ditengah hempasan gelombang. Ibu tak marah meski perlakuan ayah demikian menyakitkan. Ibu tertunduk diam, dan paling-paling hanya menangis tersedu-sedu ketika ayah memarahi, membentak-bentak, bahkan menamparnya. Mungkin bagi ibu, kepatuhan pada suami merupakan nilai ibadah tersendiri. Entahlah.
            Sayang, orang yang sangat kami sayangi itu telah pulang kepangkuan-Nya. Ramadhan tahun lalu, ibu meninggalkan kami untuk selama-lamanya ketika sesungguhnya kami masih sangat membutuhkan kehadirannya. Dan mungkin, itulah awal petaka yang menimpa keluarga kami. Ayah semakin jarang berada dirumah. Selain menghambur-hamburkan uang dimeja judi, ayah juga mulai berani main perempuan. Bahkan, beberapa kali ayah sempat membawa perempuan menginap dirumah. Kami sangat tersiksa melihat kelakuan ayah. Tetangga kanan-kiri sepertinya juga jijik melihat keluarga kami.
            Sedikit demi sedikit, perabotan rumah tangga dijual ayah. Kami tak bisa berbuat apa-apa selain menatap hampa ketika ayah dan beberapa temannya datang dengan membawa truk lalu mengangkut meja, kursi, lemari, dan barang lainnya. Seorang teman ayah bilang kepada saya, bahwa ayah kalah judi jutaan rupiah, sehingga barang- barang tersebut harus disita?
            Dulu, saya mengira ayah akan berubah menjadi baik sepeninggalannya ibu. Saya masih ingat bagaimana pesan terakhir ibu pada ayah, hanya beberapa menit sebelum ajal menjemput. Ketika itu, kami anak-anaknya dan juga ayah, ada disamping ibu yang terbaring lemah diatas ranjang. Denga terputus-putus, ibu bilang kepada ayah agar mau menjalankan ibadah puasa dibulan ramadhan. Ayah diam tak berkutik. Dan baru kali itu, saya lihat ayah yang biasanya garang dan angker, mendadak berubah lembut. Sorot matanya redup seperti menyiratkan kesedihan dan penyesalan.
            Ternyata, kesedihan ayah tak berlangsung lama. Hanya tiga minggu setalah lebaran, ayah mulai pada kebiasaan lamanya. Bahkan semakin bertambah parah.
            Tidak tehan mendengar gunjingan tetangga kanan-kiri, saya memberanikan diri mengingatkan ayah agar mau melaksanakan pesen terakhir ibu, setidaknya bersikap baik di bulan Ramadhan. Tetapi, ayah justru tertawa. Katanya, “ kamu pikir, kalau aku puasa, lantas kita akan jadi kaya, heh? Kamu rajin puasa, bahkan puasa senin-kamis, tapi apa tuhan terus kasih duit sama kamu? Kamu masih tetap miskin. Sudahlah, aku gak mau ngomong lagi soal itu. Aku mau puasa atau tidak, itu urusanku sendiri. Kamu tidak perlu ikut campur!”
            Lain kali, pernah juga saya katakana kepada ayah bahwa puasa itu tujuannya bukan untuk mencari rezeki, bukan agar bisa kaya raya, tetapi semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah karena dengan begitu, akan terhindar dari perbuatan tidak terpuji. Namun, ayah justru marah-marah. Sambil menggebrak meja, ayah bilang, “anak kemarin sore, tau apa kamu tentang hidup! Hidup itu makan. Dan makan itu perlu duit!”
            Sejak itu, saya tidak pernah bercakap-cakap dengan ayah. Saya benar-benar muak melihat kelakuannya. Apalagi kalau dia membawa perempuan yang entah darimana asalnya menginap beberapa hari dirumah. Meski kami masih sering bertatap muka, tetapi kami sudah seperti orang asing saja. Dan, saya juga tahu ada sorot kebencian dimata ayah ketika sedang menatap saya. Namun, saya acuh, cuek.
            Berbeda dengan saya, kepada dua orang adik saya, ayah bersikap biasa-biasa saja apalagi kepada faiz, adik bungsu. Saya sering melihat mereka bertiga asyik ngobrol diatas teras rumah. Saya tidak tahu dan memang tidak ingin mencari tahu apa yang sedang mereka obrolkan. Karena tiba-tiba, saya juga benci kepada dua orang adik saya itu. Dimata saya, faiz dan burhan yang lugu, polos, dan masih bersih itu, telah berkomplot dengan ayah. Berkomplot dengan segala kebejatan moral ayah. Saya benci mereka! Jadilah saya tidak punya orang dekat lagi dirumah.
            Suatu pagi, saat pulang kerja lembur, saya terkejut mendapati suasana rumah yang lain dari biasanya. Dari pintu depan, tiba-tiba faiz berlari menyongsong saya, dan sambil terisak-isak, ia mengatakan bahwa ayah meninggal dunia. Saya tidak tahu apa yang sesungguhnya ada dalam benak saya, sebab sedikitpun saya tidak terkejut mendengar kabar itu. Saya juga tidak merasa sedih kehilangan ayah. Biasa-biasa saja, seperti tak pernah terjadi apa-apa.
            Saya kemudia masuk kedalam rumah. Tetapi, sepi. Tidak seperti layaknya kalau ada kematian. Hanya ada beberapa tetangga dan teman-temanb dekat ayah yang sering mangkal di gardu ronda. Saya maklum, orang-orang tentu banyak yang tidak menyukai ayah. Karernanya,wajar jika ketika meninggalpun mereka enggan datang kerumah kami.
            Jenazah ayah sudah dimasukkan kedalam peti. Sedikitpun saya tidak ingin melihatnya.” Untuk apa?” jawab saya enteng, sekenanya, yang langsung disambut tatapan aneh beberapa orang disekitar saya. Dan entah, tiba-tiba, saya merasakan ada seseorang merenggut lengan saya, kuat, ditarik masuk kedalam kamar. “ Huss! Jangan bikin malu! Ayahmu tertabrak truk ketika sedang menyebrang jalan, mau solat subuh! Dua hari sebelumnya, ayah mu bilang kepadaku kalau dirinya sudah taubat!” ucap Haji Biran sampai didalam kamar.       
            Solat subuh? Tanya saya dalam hati, kaget, tak percaya. Sementara haji biran keluar meninggalkan saya, saya masih terpaku ditempat. Saya bingung, gelisah, sedih, kecewa, dan entah apalagi perasaan yang menyesak dalam benak saya. Sampai tiba upacara pemberangkatan jenazah, rumah saya masih sepi. Yang hadir hanya itu-itu saja, tidak lebih 16 orang. Itupun lebih banyak bekas teman-teman main judi ayah. Wajah mereka tampah sedih. Entahlah kesedihan yang bagaimana. Tetapi, saya masih sempat mendengar bisik-bisik diantara mereka, “untuk menghormati wongso, si mati, tak ada salahnya nanti malam, ketika orang-orang tarawih di masjid, kita main kartu disini!”  yang lain mengangguk-angguk.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar