1.
Contoh
kasus yang dapat diterapkan terapi Humanistik
Dani seorang mahasiswa, mungkin melihat dirinya
sebagai dokter masa depan, tetapi
nilainya yang dikeluarkan dari sekolah kedokteran ternyata dibawah
rata-rata. Perbedaan antara dengan apa Dani melihat dirinya (konsep diri) atau
bagaimana ia ingin melihat dia (ideal konsep diri) dan realitas kinerja
akademis yang buruk dapat menyebabkan kegelisahan dan kerentanan pribadi, yang
dapat memberikan motivasi yang diperlukan untuk masuk terapi. Dani harus
melihat bahwa ada masalah atau tidak pada dirinya. Dani pesimis untuk
menghadapai penyesuaian psikologis untuk mengeksplorasi perubahan dirinya.
Konseling berlangsung, klien dapat mengeksplorasi lebih luas keyakinannya dan
perasaan (Rogers, 1967). Mereka dapat mengekspresikan ketakutan mereka, rasa
bersalah kecemasan, malu, kebencian, kemarahan, dan lain sebagainya. emosi
telah dianggap terlalu negatif untuk menerima dan memasukkan ke dalam diri
mereka. Dengan terapi, orang disortir kurang dan pindah ke penerimaan yang
lebih besar dan integrasi perasaan yang saling bertentangan dan membingungkan.
Mereka semakin menemukan aspek dalam diri mereka yang telah disimpan
tersembunyi.
Sebagai klien merasa
dimengerti dan diterima, mereka menjadi kurang defensif dan menjadi lebih
terbuka terhadap pengalaman mereka. Karena mereka merasa lebih aman dan kurang
rentan, mereka menjadi lebih realistis, menganggap orang lain dengan akurasi
yang lebih besar, dan menjadi lebih mampu untuk memahami dan menerima orang
lain. Individu dalam terapi datang untuk menghargai diri mereka lebih seperti
mereka, dan perilaku mereka menunjukkan lebih banyak fleksibilitas dan
kreativitas. Mereka menjadi kurang peduli tentang memenuhi harapan orang lain,
dan dengan demikian mulai berperilaku dengan cara yang lebih benar untuk diri
mereka sendiri. Mereka bergerak ke arah yang lebih berhubungan dengan apa yang
mereka alami pada saat ini, kurang terikat oleh masa lalu, kurang ditentukan,
lebih bebas untuk membuat keputusan, dan semakin percaya diri masuk untuk
mengelola kehidupan mereka sendiri.
Dari contoh kasus Dani
dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu alasan klien mencari terapi adalah
perasaan tidak percaya diri, dan ketidakmampuan untuk membuat keputusan atau
secara efektif mengarahkan hidup mereka sendiri. Leon diarahkan supaya melihat
kepotensian diri dia yang sebenarnya, terapi difokuskan ke saat yang sekarang
agar Leon dapat melanjtukan hidupnya.
Dari contoh kasus
tersebut inti dari terapi ini adalah penggunaan pribadi terapi yang kapasitas
untuk sadar akan dirinya, meningkatkan kesadaran diri yang memotivasi atau
mempengaruhi seseorang dan tujuan hidup individu itu (Baldwin, 1987).
2. Contoh kasus yang
diterapkan terapi
Logoterapi
a) Kasus hidrofobia yang dialami seorang klien
selama 4 tahun, dimana ia selalu merasa gemetar dan keluar keringat tiap kali
berjabat tangan dengan atasannya. Frankl mengajukan saran kepada kliennya
supaya jika ia bertemu kembali dengan atasannya berusaha secara sengaja
mengatakan pada dirinya bahwa ia akan mengeluarkan keringat sebanyak-banyaknya
jika bersalaman dengan atasannya yang
sebelumnya hanya sedikit. Dan hasilnya ternyata klien tidak berkeringat
sedikitpun saat bersalaman dengan atasannya.
b) Kasus bakterofobia dan kompulsi mencuci
yang dialami ibu rumah tangga ditangani Frankl dengan mengajak ibu tersebut
menirukan apa yang dilakukannya dengan menggosok-gosokkan tangan ke lantai dan
kemudian berkata, ‘’Lihat, tangan saya menjadi kotor, tetapi saya tidak bisa
menemukan banyak bakteri !’’ dan kemudian ibu tersebut mau menirukannya dan
selama 5 hari berikutnya gejala-gejala bakterfobia mulai menyusut dan akhirnya
hilang sama sekali.
c) Kasus alkoholisme neurosis yang dialami
D.F yang mana dengan minum secara eksesif untuk mengatasi ketidakbermaknaan
hidup sekaligus untuk mengatasi gejala gemetaran tangan jika berada di depan
orang lain. Dan tidak bisa mengangkat piring atau gelas tanpa menumpahkan
isinya jika makan atau minum di depan umum. Gerz menganjurkan D.F agar secara
sengaja berhumor menunjukkan gejala-gejala itu
di hadapan orang lain dengan mengatakan ‘’ Lihat, betapa ajaib getaran
tanganku.’’ Dan ternyata dia tidak bisa menggetarkan tangannya ketika berhadapan
dengan orang lain.
Dari contoh kasus diatas, dapat
disimpulkan bahwa dengan intensi paradoksial individu didorong untuk melakukan
sesuatu yang paradoks yakni mendekati sesuatu yang justru ditakutinya dan yang
selalu ingin dihindarinya.
Kondisi
Subjek Sebelum Dan Setelah Konseling
Sebelum
konseling
1.
Subjek sering mencari pelayanan medis karena merasakan berbagai keluhan fisik:
sakit kepala (pusing), punggung kaku, nyeri di persendian tangan & kaki,
dada sesak, perut kembung, lambung perih, lemah pada bagian kaki, suara serak
2.
Subjek tidak dapat menerima kenyataan bahwa keadaan keluarga tidak tercukupi
secara finansial karena subjek tidak mampu memberikan nafkah bagi keluarganya
3.
Subjek menjadi mudah marah dan merasa tidak dihormati sebagai kepala keluarga
karena istri dan anak-anaknya sering tidak menuruti perkataan subjek
4.
Permasalahan yang dihadapi subjek membuatnya merasa tidak berharga, merasa
tujuan hidupnya tidak terpenuhi dan merasa hidupnya tidak bermakna
Pemberian
intervensi
Konseling
logoterapi diberikan dalam 4 langkah, yaitu:
1.
Mengambil jarak atas gejala (distance from symptoms) dimana konselor
membantu menyadarkan subjek bahwa gejala sama sekali tidak identik dan mewakili
diri subjek, namun semata-mata merupakan kondisi yang dialami dan dapat
dikendalikan
2.
Modifikasi sikap (modification of attitude) dimana konselor membantu
subjek untuk mendapatkan pandangan baru atas diri dan kondisinya, selanjutnya
subjek menentukan sikap baru untuk menentukan arah dan tujuan hidupnya
3.
Pengurangan gejala (reducing symptoms) dimana konselor menggunakan
teknik logoterapi
berupa dereflection untuk menghilangkan atau mengurangi dan mengendalikan gejala pada subjek
berupa dereflection untuk menghilangkan atau mengurangi dan mengendalikan gejala pada subjek
4.
Orientasi terhadap makna (orientation toward meaning) dimana konselor
bersama subjek membahas bersama nilai-nilai dan makna hidup yang secara
potensial ada dalam kehidupan subjek, memperdalam dan menjabarkannya menjadi
tujuan- tujuan yang lebih konkrit.
Setelah
konseling
1.
Keluhan yang dirasakan subjek telah berkurang dan mampu diabaikan oleh subjek
sehingga tidak memenuhi kriteria diagnosa untuk gangguan psikologis
2.
Subjek telah mampu menerima kondisi bahwa ia tidak mampu memberikan nafkah bagi
keluarganya dan lebih memperhatikan hal-hal yang dapat dilakukannya untuk
membahagiakan keluarganya
3.
Subjek dapat mempertahankan pengendalian emosi yang telah berhasil dilakukannya
agar dapat terus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari
4.
Pernyataan dari anggota keluarga bahwa terdapat perubahan subjek ke arah yang
lebih baik berkaitan dengan sikapnya terhadap anggota keluarga
5.
Subjek telah memiliki tujuan hidup, yaitu membahagiakan dan mensejahterakan
keluarga meski tidak berupa materi, dapat bermanfaat bagi orang lain, dan lebih
dekat dengan Tuhan
Sumber
:
Abidin, Zainal. 2007. Analisis eksistensial. Jakarta: Raja Grafindo
Persada
Corey
Gerald, 2009, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, Bandung:
PT Refika Aditama
Hana uswatun hasanah suprapto,
madiun, jawa timur. Jurnal “konseling logo terapi untuk meningkatkan
kebermaknaan hidup lansia”. Volume1 (2), 190-198. Magister psikologi UMM. 2013
Misiak,
henryk.2005.psikologi fenomenologi,eksistensial dan humanistic.
Bandung: PT Rafika Aditama
Schultz, Duane. 1991. Psikologi
pertumbuhan: model-model kepribadian sehat. Yogyakarta:
Kanisius
Tidak ada komentar:
Posting Komentar