Contoh kasus:
Seorang wanita berusia sekitar 25 tahun dan memiliki seorang
putrid dikeluhkan oleh suaminya. Suaminya mengeluh karena istrinya sulit sekali
mempercayai dirinya. Memang gejala ini sudah tampak sejak mereka berpacaran,
namun semakin meningkat intensitasnya setelah mereka berpacaran, namun semakin
meningkat intensitasnya setelah mereka menikah. Apalagi setelah suaminya sering
bepergian dinas ke luar kota. Apabila suaminya terlambat pulang dari kantor,
maka istrinya akan langsung menuduh bahwa suaminya selingkuh dan memiliki
wanita lain. Pernah pula istrinya curiga bahwa suaminya telah menikah dengan
wanita lain. Keluarganya dan keluarga suami telah berulang kali meyakinkan
bahwa suaminya selama ini tetap setia, namun sulit sekali untuk diterima oleh
sang istri. Tetangga sekitar rumah pun kadangkala dicurigai oleh sang istri,
sampai-sampai kadangkala suami tidak bertegur sapa dengan para tetangga.
(sumber: kasus kepribadian).
Dari contoh kasus diatas, kami menganalisa kasus dengan
menggunakan terapi kelompok. Dari terapi kelompok ini ada tiga teknik, yaitu:
psikodrama, role playing, dan encounter groups.
Pertama, psikodrama adalah suatu bentuk terapi kelompok
dimana pasien didorong untuk memainkan suatu peran emosional di depan para
penonton tanpa pasien sendiri dilatih sebelumnya. Dengan mendramatisir
konflik-konflik batinnya, pasien dapat merasa sedikit lega dan dapat
mengembangkan pemahaman baru yang memberinya kesanggupan untuk mengubah
perannya dalam kehidupan yang nyata.
Dimana menurut Whittaker mengemukakan psikodrama dengan 4
instrumen:
a. Panggung,
yang merupakan ruang kehidupan psikologis dan fisik bagi pasien. Pada media
panggung ini pasien diminta bermain drama tanpa diberikan skenario dan
menceritakan apa yang pasien rasakan pada saat itu.
b. Sutradara
c. Penolong
terapeutik
d. Para penonton.
Penontonyang terdiri dari anggota kelompok yang lainnya. Disini strateginya
adalah memberi kemungkinan kepada pasien untuk dapat memproyeksikan dirinya
pada dunianya sendiri dan memunculkan respon-respon dari teman-teman anggota
kelompoknya sendiri.
Kedua, role play adalah suatu variasi dari psikodrama yang
tidak menggunakan alat-alat sandiwara. Teknik ini digunakan untuk mendorong
pasien berbicara dan mengembangkan persepsi-persepsi baru dalam berbagai
situasi kelompok,.
Ketiga, encounter groups merupakan bentuk khusus dari terapi
kelompok. Ini bertujuan untuk membantu mengembangkan kesadaran diri dengan
berfokus pada bagaimana para anggota kelompok berhubungan satu sama lain dalam
situasi dimana didorong untuk mengungkapkan perasaan secara terus terang.
Analisis Kasus:
Menurut saya, pada kasus diatas dapat digunakan terapi
kelompok karena perlahan-lahan dapat membuat pasien menciptakan rasa percaya
terhadap suaminya. Dalam teknik psikodrama, kita dapat mengetahui bahwa apa
yang terjadi pada pasien melalui drama yang dibuat oleh pasien tersebut. Drama
dilakukan pada sebuah tempat yaitu panggung yang dapat meggunakan media berupa
alat-alat sandiwara, contohnya boneka yang dapat digunakan oleh pasien. Teknik
role play atau bermain peran dengan menggunakan teman-teman kelompok si pasien.
Terapis memberikan peran kepada setiap orang yang ada pada kelompok untuk
melakukan peran dengan menjadi temannya yang ada pada kelompoknya sendiri. Ini
dapat memberikan efek untuk membuat pasien mengerti bagaimana memahami perasaan
orang lain dengan bergati peran tersebut dan diharapkan dapat diterapkan pada
kesehariannya serta dapat menumbuhkan kepercayaan tersebut kepada suaminya.
Teknik encounter group dimana berfokus pada bagaimana para anggota kelompok
berhubungan satu sama lain. Melalui ini pasien diharapkan dapat berbincang
dengan teman-teman kelompoknya untuk membantu mengembangkan kesadaran diri
pasien dan mengungkapkan secara terus terang.
Sumber:
(kasus kepribadian):
Mbak aya, (2013).
(http://coass-kita.blogspot.com/2013/02/gangguan-kepribadian.html) diakses pada
tanggal 25 Juni 2015.
Sudarno, Paulus. (2009). Manajemen Terapi Motivasi. Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama
Residen Bagian Psikiatri UCLA. (1997). Buku Saku Psikiatri.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Kaplan, Sadock’s. Psikoterapi Sinopsis Psikiatri. Edisi :
Ketujuh. Jilid 2, hal 383 – 442.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar