Npm : 18513399
Kelas : 3PA14
A. MENGENDALIKAN FUNGSI MANAJEMEN
1. Definisi Pengendalian (Controlling)
Pengendalian /Pengawasan adalah proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil yang diharapkan sesuai dengan kinerja yang telah ditetapkan tersebut. Controlling is the process of measuring performance and taking action to ensure desired results (Schermerhorn, 2002).
Pengendalian /Pengawasan adalah proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil yang diharapkan sesuai dengan kinerja yang telah ditetapkan tersebut. Controlling is the process of measuring performance and taking action to ensure desired results (Schermerhorn, 2002).
Pengendalian/Pengawasan adalah proses untuk
memastikan bahwa segala aktifitas yang terlaksana sesuai dengan apa yang telah
direncanakan. The process of ensuring that actual activities conform the
planned activities (Stoner, Freeman, & Gilbert, 1995).
Pengendalian sebagai sebuah fungsi dari manajemen
telah mengalami perkembangan definisi dari masa ke masa, yang cukup popular
adalah pendapat Usury dan Hammer (1994) yang berpendapat bahwa “Controlling is
management’s systematic efforts to achieve objectives by comparing performances
to plan and taking appropriate action to correct important differences” yang
artinya pengendalian adalah sebuah usaha sistematik dari manajemen untuk
mencapai tujuan dengan membandingkan kinerja dengan rencana awal kemudian
melakukan langkah perbaikan terhadap perbedaan-perbedaan penting dari keduanya.
Namun secara sederhana pengendalian dapat diartikan sebagai proses penyesuaian
pergerakan organisasi dengan tujuannya.
Fungsi-Fungsi Manajemen Kegiatan dalam fungsi
Pengendalian/Pengawasan (Controlling):
• Mengevaluasi keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan.
• Mengambil langkah klarifikasi dan koreksi atas penyimpangan yang mungkin ditemukan.
• Melakukan berbagai alternatif solusi atas berbagai masalah yang terkait dengan pencapaian tujuan dan target.
• Mengevaluasi keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan.
• Mengambil langkah klarifikasi dan koreksi atas penyimpangan yang mungkin ditemukan.
• Melakukan berbagai alternatif solusi atas berbagai masalah yang terkait dengan pencapaian tujuan dan target.
2. Langkah-langkah dalam kontrol
Proses Pengendalian Manajemen :
a. Perencanaan Strategi
b. Penyusunan Anggaran
c. Pelaksanaan Anggaran
d. Evaluasi Kinerja
Proses Pengendalian Manajemen :
a. Perencanaan Strategi
b. Penyusunan Anggaran
c. Pelaksanaan Anggaran
d. Evaluasi Kinerja
Pengendalian Tugas proses untuk memastikan bahwa
tugas yang spesifik dilaksanakan secara efektif dan efisien.
Langkah-langkah penting pada proses pengendalian dapat digolongkan menjadi beberapa elemen, yaitu:
1. Mengidentifikasikan tujuan dan strategi
2. Penyusunan program
3. Penyusunan anggaran
4. Kegiatan dan pengumpulan realisasi prestasi
5. Pengukuran prestasi
6. Analisis dan pelaporan
7. Tindakan koreksi
Langkah-langkah penting pada proses pengendalian dapat digolongkan menjadi beberapa elemen, yaitu:
1. Mengidentifikasikan tujuan dan strategi
2. Penyusunan program
3. Penyusunan anggaran
4. Kegiatan dan pengumpulan realisasi prestasi
5. Pengukuran prestasi
6. Analisis dan pelaporan
7. Tindakan koreksi
3. Tipe-tipe dalam pengawasan (control)
Ada tiga tipe pengawasan, yaitu:
a. Pengawasan pendahuluan
Dirancang untuk mengantisipasi adanya penyimpangan dari standar atau tujuan
dan memungkinkan koreksi dibuat sebelum suatu tahap kegiatan tertentu
diselesaikan.
b. Pengawasan yang dilakukan bersama dengan pelaksanaan kegiatan.
Merupakan proses di mana aspek tertentu dari suatu prosedur harus disetujui
dulu atau syarat tertentu harus dipenuhi dulu sebelum kegiatan – kegiatan bisa
dilanjutkan, untuk menjadi semacam peralatan “double check” yang telah
menjamin ketepatan pelaksanaan kegiatan.
c. Pengawasan umpan balik
Mengukur hasil-hasil dari suatu kegiatan yang telah diselesaikan.
Ada tiga tipe pengawasan, yaitu:
a. Pengawasan pendahuluan
Dirancang untuk mengantisipasi adanya penyimpangan dari standar atau tujuan
dan memungkinkan koreksi dibuat sebelum suatu tahap kegiatan tertentu
diselesaikan.
b. Pengawasan yang dilakukan bersama dengan pelaksanaan kegiatan.
Merupakan proses di mana aspek tertentu dari suatu prosedur harus disetujui
dulu atau syarat tertentu harus dipenuhi dulu sebelum kegiatan – kegiatan bisa
dilanjutkan, untuk menjadi semacam peralatan “double check” yang telah
menjamin ketepatan pelaksanaan kegiatan.
c. Pengawasan umpan balik
Mengukur hasil-hasil dari suatu kegiatan yang telah diselesaikan.
4. Kontrol proses manajemen
Ada beberapa tahap proses pengawasan antara lain:
1. Penetapan standard kegiatan.
2. Penentuan pengukuran kegiatan.
3. Pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata.
4. Membandingkan pelaksanaan kegiatan dengan standard dan penganalisaan
penyimpangan-penyimpangan.
5. Mengambil tindakan pengoreksian bila dianggap perlu.
Ada beberapa tahap proses pengawasan antara lain:
1. Penetapan standard kegiatan.
2. Penentuan pengukuran kegiatan.
3. Pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata.
4. Membandingkan pelaksanaan kegiatan dengan standard dan penganalisaan
penyimpangan-penyimpangan.
5. Mengambil tindakan pengoreksian bila dianggap perlu.
B. KEKUASAAN DAN PENGARUH
Definisi Kekuasaan
Kekuasaan (power) adalah
kemampuan yang dimiliki seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi individu
lain ataupun kelompok lain. Kekuasaan yang dimiliki seseorang akan menempatkan
orang tersebut dalam suatu kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan
orang lain yang dipengaruhinya. Pada umumnya kekuasaan akan menciptakan suatu
hubungan yang vertical dalam suatu organisasi. Kekuasaan juga akan menentukan
siapa yang pantas dan seharusnya mengambil keputusan (decision making) dalam
suatu organisasi.
Teori yang dikemukakan oleh French dan Raven ini menyatakan bahwa kepemimpinan bersumber pada kekuasaan dalam kelompok atau organisasi. Dengan kata lain, orang atau orang-orang yang memiliki akses terhadap sumber kekuasaan dalam suatu kelompok atau organisasi tertentu akan mengendalikan atau memimpin kelompok atau organisasi itu sendiri. Adapun sumber kekuasaan itu sendiri ada tiga macam, yaitu kedudukan, kepribadian dan politik.
Teori yang dikemukakan oleh French dan Raven ini menyatakan bahwa kepemimpinan bersumber pada kekuasaan dalam kelompok atau organisasi. Dengan kata lain, orang atau orang-orang yang memiliki akses terhadap sumber kekuasaan dalam suatu kelompok atau organisasi tertentu akan mengendalikan atau memimpin kelompok atau organisasi itu sendiri. Adapun sumber kekuasaan itu sendiri ada tiga macam, yaitu kedudukan, kepribadian dan politik.
Gilbert W. Fairholm mendefinisikan kekuasaan sebagai
“... kemampuan individu untuk mencapai tujuannya saat berhubungan dengan
orang lain, bahkan ketika dihadapkan pada penolakan mereka.” Fairholm lalu
merinci sejumlah gagasan penting dalam penggunaan kekuasaan secara sistematik
dengan menakankan bahwa kapasitas personal-lah yang membuat pengguna kekuasaan
bisa melakukan persaingan dengan orang lain.
Sumber-Sumber Kekuasaan
dalam Organisasi
Kekuasaan Berdasarkan Kedudukan memiliki pengaruh potensial yang berasal dari kewenangan yang sah karena kedudukannya dalam organisasi terdiri dari: Kewenangan Formal dan Kekuasaan Pribadi.
Kewenangan Formal, yaitu kewenangan yang mengacu pada hak prerogatif, kewajiban dan tanggung jawab seseorang berkaitan dengan kedudukannya dalam organisasi atau sistem sosial.
Kontrol terhadap sumber daya dan imbalan, merupakan kontrol dan penguasaan terhadap sumber daya dan imbalan terkait dengankedudukan formal. Makin tinggi posisi seseorang dalam hirarki organisasi, makin banyak kontrol yang dipunyai orang tersebut terhadap sumber daya yang terbatas. Kontrol terhadap hukuman merupakan kapasitas untuk mencegah seseorang memperoleh imbalan.. Kontrol terhadap informasi menyangkut kontrol terhadap akses terhadap informasi penting maupun kontrol terhadap distribusinya kepada orang lain. Kontrol ekologis menyangkut kontrol terhadap lingkungan fisik, teknologi dan metode pengorganisasian pekerjaan.
Kekuasaan pribadi menjelaskan bahwa kelompok
sumber kekuasaan berdasarkan kedudukan akan berlimpah pada orang-orang yang
secara hirarki mempunyai kedudukan dalam organisasi. Pengaruh potensial yang
melekat pada keunggulan individu terdiri dari: Kekuasaan keahlian (expert
power), Kekuasaan kesetiaan (referent power), dan Kekuasaan karisma.
Kekuasaan keahlian (expert power) merupakan kekuasaan yang bersumber dari keahlian dalam memecahkan masalah tugas-tugas penting. Semakin tergantung pihak lain terhadap keahlian seseorang, semakin bertambah kekuasaan keahlian (expert power) orang tersebut.
Kekuasaan kesetiaan (referent power) merupakan potensi seseorang yang menyebabkan orang lain mengagumi dan memenuhi permintaan orang tersebut. Referent power terkait dengan keterampilan interaksi antar pribadi, seperti pesona, kebijaksanaan, diplomasi dan empati.
Kekuasaan karisma merupakan sifat bawaan dari seseorang yang mencakup penampilan, karakter dan kepribadian yang mampu mempengaruhi orang lain untuk suatu tujuan tertentu.
Kekuasaan keahlian (expert power) merupakan kekuasaan yang bersumber dari keahlian dalam memecahkan masalah tugas-tugas penting. Semakin tergantung pihak lain terhadap keahlian seseorang, semakin bertambah kekuasaan keahlian (expert power) orang tersebut.
Kekuasaan kesetiaan (referent power) merupakan potensi seseorang yang menyebabkan orang lain mengagumi dan memenuhi permintaan orang tersebut. Referent power terkait dengan keterampilan interaksi antar pribadi, seperti pesona, kebijaksanaan, diplomasi dan empati.
Kekuasaan karisma merupakan sifat bawaan dari seseorang yang mencakup penampilan, karakter dan kepribadian yang mampu mempengaruhi orang lain untuk suatu tujuan tertentu.
Jenis-jenis kekuasaan berdasarkan
sumbernya
Sumber kekuasaan biasanya dibagi menjadi dua
kelompok besar (Robbins dan Judge,2007), yaitu:
1. Sumber kekuasaan antar individu (interpersonal
sources of power).
a) Kekuasaan Formal (Formal Power) adalah kekuasaan
yang didasarkan pada posisi individual dalam suatu organisasi. Kekuasaan ini
dapat berasal dari:
i) Kemampuan untuk memaksa (coercive power),
ii) Kemampuan untuk memberi imbalan (reward power)
iii) Kekuatan formal (legitimate power).
b) Kekuasaan Personal (Personal Power) adalah
kekuasaan yang berasal dari karakteristik unik yang dimiliki seorang individu.
Kekuasaan ini dapat berasal dari:
i) Kekuasaan karena dianggap ahli (Expert Power)
ii) Kekuasaan karena dijadikan contoh (Referent
Power)
2. Sumber kekuasaan struktural (structural sources
of power). Kekuasaan ini juga dikenal dengan istilah inter-group atau
inter-departmental power yang merupakan sumber kekuasaan kelompok.
Sumber Kekuasaan Antar Individu
Pada paragrap berikut, penulis akan membahas
pengertian masing-masing kekuasaan yang telah disebutkan (Hughes et all, 2009):
~ Kekuasaan
Memaksa (Coercive Power).
Kekuasaan ini timbul pada diri seseorang karena ia
memiliki kemampuan untuk memberikan hukuman (akibat negatif) atau meniadakan
kejadian yang positif terhadap orang lain. Pada suatu organisasi, biasanya
seseorang tunduk pada atasannya karena takut dipecat, atau diturunkan dari
jabatannya. Kekuasaan ini juga dapat dimiliki seseorang karena ia mempunyai
informasi yang sangat penting mengenai orang lain, yang mempunyai pengaruh
sangat besar terhadap orang tersebut.
~ Kekuasaan
Memberi Imbalan (Reward Power).
Kekuasaan ini timbul pada diri seseorang karena ia
memiliki kemampuan untuk mengendalikan sumber-daya yang dapat mempengaruhi
orang lain, misalnya ia dapat menaikkan jabatan, memberikan bonus, menaikkan
gaji, atau hal-hal positif lainnya.
~ Kekuasaan
Resmi (Legitimate Power).
Kekuasaan ini timbul pada diri seseorang karena ia
memiliki posisi sebaga pejabat pada struktur organisasi formal. Orang ini
memiliki kekuasaan resmi untuk mengendalikan dan menggunakan sumber-daya yang
ada dalam organisasi. Kekuasaannya meliputi kekuatan untuk memaksa dan memberi
imbalan Anggota organisasi biasanya akan mendengarkan dan melaksanakan apa yang
dikatakan oleh pemimpinnya, karena ia memiliki kekuasaan formal dalam
organisasi yang dipimpinnya.
~ Kekuasaan
karena Ahli (Expert Power).
Kekuasaan ini timbul pada diri seseorang karena ia
memiliki keahlian, ketrampilan atau pengetahuan khusus dalam bidangnya.
Misalnya seorang ahli computer yang bekerja pada sebuah perusahaan, atau
seorang karyawan yang memiliki kemampuan menggunakan 2 atau 3 bahasa internasional,
akan memiliki expert power karena sangat dibutuhkan oleh perusahaannya.
~ Kekuasaan
karena pantas dijadikan contoh (Referent Power).
Kekuasaan ini timbul pada diri seseorang karena ia
memiliki sumber-daya, kepribadian yang menarik, atau karisma tertentu.
Kekuasaan ini dapat menimbulkan kekaguman pada orang tersebut, dan membuat
orang yang mengaguminya ingin menjadi seperti orang tersebut. Misalnya seorang
dengan kepribadian menarik, sering dijadikan contoh atau model oleh orang lain
dalam berperilaku.
~ Sumber
Kekuasaan Struktural
Sumber Kekuasaan Struktural sering disebut juga
Inter-departmental Sources of Power (Inter-group Sources of Power). Sumber dan
penggunaan kekuasaan pada tingkat kelompok, khususnya departemen yang ada di
dalam suatu organisasi memiliki nilai yang tinggi dalam studi tentang perilaku
organisasi. Saunders, 1990 (Brooks, 2006) mengatakan bahwa kekuasaan pada
tingkat departemen atau kelompok dapat berasal dari 5 sumber yang potensial,
yang mungkin saja saling tumpang-tindih (overlap), yaitu:
1. Ketergantungan (Dependency). Jika departemen A
bergantung pada departemen B untuk informasi atau kerjasama lainnya untuk dapat
mengerjakan tugasnya dengan efektif, maka departemen B memiliki sumber
kekuasaan terhadap departemen A.
2. Kesentralan (Centrality). Ini adalah ukuran
tingkat pentingnya suatu departemen bekerja untuk tujuan utama organisasi.
Secara alternatif dapat dianggap sebagai suatu ukuran seberapa besar departemen
tersebut tidak dibutuhkan oleh organisasi tersebut. Semakin penting departemen
tersebut bagi organisasinya, maka akan semakin besar kekuasaannya.
3. Sumber Dana (Financial Resources).Departemen yang
menghasilkan sumber dana sendiri, khususnya jika mereka mampu menghasilkan
pendapatan lebih besar dibandingkan departemen lainnya, akan mendapatkan
keuntungan dari sumber kekuasaan ini.
4. Ketidak-berlanjutan (Non-sustainability).
Berhubungan dengan tingkat pentingnya departemen tersebut. Keberlanjutan adalah
suatu ukuran seberapa mudah fungsi dari departemen tersebut digantikan oleh
yang lain. Departemen yang mudah ditutup karena dapat digantikan fungsinya,
akan memiliki kekuasaan yang rendah.
5. Menghadapi ketidak-pastian (Copying with
uncertainty). Departemen yang memiliki kemampuan menurunkan ketidak-pastian bagi
departemen yang lain, akan memiliki kekuasaan yang lebih besar.Departemen yang
memiliki kekuasaan lebih tinggi akan memiliki daya tawar (bargaining power) dan
pengaruh (influencing power) yang lebih besar dibandingkan departemen yang
kekuasaannya lebih rendah.
· Definisi Pengaruh
Sebagai esensi dari kepemimpinan, pengaruh
diperlukan untuk menyampaikan gagasan, mendapatkan penerimaan dari kebijakan
atau rencana dan untuk memotivasi orang lain agar mendukung dan melaksanakan
berbagai keputusan..
Jika kekuasaan merupakan kapasitas untuk menjalankan
pengaruh, maka cara kekuasaan itu dilaksanakan berkaitan dengan perilaku
mempengaruhi. Oleh karena itu, cara kekuasaan itu dijalankan dalam berbagai
bentuk perilaku mempengaruhi dan proses-proses
mempengaruhi yang timbal balik antara pemimpin dan pengikut, juga akan
menentukan efektivitas kepemimpinan.
Pengaruh Taktik Organisasi
Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang
lain. Selain menggunakan kekuasaan, ada berbagai cara yang dapat digunakan oleh
orang yang berada dalam organisasi untuk mempengaruhi orang lain.
Taktik-taktik
mempengaruhi (Influence Tactics) adalah cara-cara yang biasanya digunakan oleh
seseorang untuk mempen-garuhi orang lain, baik orang yang merupakan atasan,
setingkat, atau bawahannya. Dengan mengetahui dan menggunakan hal ini, maka
seseorang dapat mempengaruhi orang lain, dengan tidak menggunakan kekuasaan
yang dimilikinya.
Kipnis dan
Schmidt adalah peneliti yang pertama kali meneliti taktik-taktik yang biasa
digunakan orang untuk mempengaruhi orang lain. (Kipnis dan Schmidt, 1982).
Berbagai alat ukur telah dibuat untuk meneliti taktik mempengaruhi, dan salah
satu yang terbaik adalah yang dibuat oleh Yukl dkk, yaitu yang disebut
Influence Behavior Questionnaire (Yukl, Lepsinger, and Lucia, 1992). Hasil
penelitian Yukl dkk, menun-jukkan ada sembilan jenis taktik yang biasa
digunakan di dalam organisasi (Hugheset all, 2009), yaitu:
- Persuasi Rasional (Rational Persuasion), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan menggunakan alasan yang logis dan bukti-bukti nyata agar orang lain tertarik.
- Daya-tarik Inspirasional (Inspirational Appeals), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan menggunakan suatu permintaan atau proposal untuk membangkitkan antusiasme atau gairah pada orang lain.
- Konsultasi (Consultation), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan mengajak dan melibatkan orang yang dijadikan target untuk berpartisipasi dalam pembuatan suatu rencana yang akan dilaksanakan.
- Mengucapkan kata-kata manis (Ingratiation), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan menggunakan kata-kata yang membahagiakan.
- Daya-tarik Pribadi (Personal Appeals), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain atau memintanya untuk melakukan sesuatu karena merupakan teman atau karena dianggap loyal.
- Pertukaran (Exchange), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan memberikan sesuatu keuntungan tertentu kepada orang yang dijadikan target, sebagai imbalan atas kemauannya mengikuti suatu permintaan tertentu.
- Koalisi (Coalitions), terjadi jika seseorang meminta bantuan dan dukungan dari orang lain untuk membujuk agar orang yang dijadikan target setuju.
- Tekanan (Pressure), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan menggunakan ancaman, peringatan, atau permintaan yang berulang-ulang dalam meminta sesuatu.
- Mengesahkan (Legitimacy), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan menggunakan jabatannya, kekuasaannya, atau dengan mengatakan bahwa suatu permintaan adalah sesuai dengan kebijakan atau aturan organisasi.
DAFTAR
PUSTAKA
http://arenamateribelajar.blogspot.com/2012/11/fungsi-manajemen-pengendalian.html
http://lina-embun.blogspot.com/2011/12/fungsi-pengendalian-dalam-manajemen.html
http://lina-embun.blogspot.com/2011/12/fungsi-pengendalian-dalam-manajemen.html
Sukoco, Badri Munir. (2007). Manajemen
Administrasi Perkantoran Modern. Jakarta: Erlangga.
Tangkilisan, Drs.Hessel Nogi S. (2005). Manajemen
Publik. Jakarta: PT. Grasindo.
Umar, Husein. (2000). Business An
Introduction. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Media.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar