1.
Hubungan
Interpersonal
Hubungan interpersonal adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita
bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan
interpersonalnya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menentukan content
melainkan juga menentukan relationship.
Dari segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik
hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya; makin
cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya; sehingga makin efektif
komunikasi yang berlangsung diantara komunikan.
A. Model model hubungan interpersonal
·
Model
pertukaran sosial
(social exchange model)
Hubungan interpersonal diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya (akibat negatif) serta hasil / laba (ganjaran dikurangi biaya).
Hubungan interpersonal diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya (akibat negatif) serta hasil / laba (ganjaran dikurangi biaya).
·
Model
peranan (role
model)
Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.
Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.
·
Model
permainan (games
people play model)
Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
• Kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
• Kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional)
• Kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).
Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
• Kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
• Kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional)
• Kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).
·
Pada
interaksi individu menggunakan salah satu kepribadian tersebut sedang yang lain
membalasnya dengan menampilkan salah satu dari kepribadian tersebut. Sebagai
contoh seorang suami yang sakit dan ingin minta perhatian pada istri
(kepribadian anak), kemudian istri menyadari rasa sakit suami dan merawatnya
(kepribadian orang tua).
·
Model
Interaksional
(interacsional model)
Model ini memandang hubungann interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat struktural, integratif dan medan. Secara singkat model ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.
Model ini memandang hubungann interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat struktural, integratif dan medan. Secara singkat model ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.
B. Memulai hubungan
Merupakan usaha-usaha
yang sangat awal yang kita lakukan dalam percakapan dengan seseorang yang baru
kita kenal. Seperti contohnya ketika ingin berkenalan dengan teman baru, kita
menanyakan namanya dan bagaimana kabarnya.
C.
Hubungan Peran
- Pembentukan kesan
Diawal
telah saya katakan bahwa pertanyaan tentang “apakah mereka menyukai kita?” atau
“apakah kita menyukai mereka?” merupakan penilaian untuk membentuk kesan
pertama dalam berhubungan dengan orang lain. Menurut Sears dkk, evaluasi
merupakan aspek pertama yang paling penting dan kuat dalam membentuk kesan
pertama. Kenapa ? karena secara formal dimensi evaluatif merupakan dimensi
terpenting diantara sejumlah dimensi dasar yang mengorganisasikan kesan
gabungan tentang orang lain.
- Ketertarikan interpersonal
Ada
beberapa prinsip yang berusaha menjelaskan alasan mengapa akhirnya kita
memutuskan untuk berteman atau tidak berteman dengan orang lain, yaitu:
Pengutan
Kita
menyukai orang lain dengan cara member ganjaran sebagai penguatan dari tindakan
atau sikap kita. Salah satu tipe ganjaran yang penting adalah persetujuan
sosial dan banyak penelitian memperlihatkan bahwa kita cenderung menyukai orang
lain yang cenderung menilai kita secara positif.
Pertukaran sosial
Pandangan
ini menyatakan bahwa rasa suka kita kepada orang lain didasarkan pada penilaian
kita terhadap kerugian dan keuntungan yang diberikan seseorang kepada kita.
Pandangan ini sesuai dengan model
pertukaran sosial yang telah saya uraikan diatas.
Asosiasi
Merupakan
prinsip yang dipakai di dalam Classical
Conditioning. Kita menjadi suka kepada orang dengan mengasosiasikannya
(menghubungkan) dengan pengalaman baik atau bagus dan tidak suka kepada orang
lain yang diasosiasikan dengan pengalaman buruk atau jelek.
Pada tahap remaja dewasa, dalam
teori Erikson, individu akan mengalami tahap Intimacy vs Isolation. Dimana
intimasi akan tumbuh dengan adanya cinta. Cinta ada ketika individu telah
mengenal dirinya sendiri sebagai suatu identitas. Namun kenyataannya, takut
akan terikat dan komitmen menjadi hal yang paling banyak dialami oleh orang
pada tahap ini, sehingga menimbulkan sikap tidak terlalu tergantung pada bentuk
hubungan dekat apapun, khususnya hubungan romantic, sehingga menimulkan
perilaku isolas
D.
Intimasi dan Hubungan Pribadi
Pendapat beberapa ahli mengenai
intimasi, di antara lain yaitu :
a)
Shadily dan Echols
(1990) mengartikan intimasi sebagai kelekatan yang kuat yang didasarkan oleh
saling percaya dan kekeluargaan.
b)
Sullivan (Prager, 1995) mendefinisikan
intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk
mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain.
c) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah
sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan
satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang
terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas
yang sama.
d)
Levinger & Snoek
(Brernstein dkk, 1988) merupakan suatu bentuk hubungan yang berkembang dari
suatu hubungan yang bersifat timbal balik antara dua individu. Keduanya saling
berbagi pengalaman dan informasi, bukan saja pada hal-hal yang berkaitan dengan
fakta-fakta umum yang terjadi di sekeliling mereka, tetapi lebih bersifat
pribadi seperti berbagi pengalaman hidup, keyakinan-keyakinan, pilihan-pilihan,
tujuan dan filosofi dalam hidup. Pada tahap ini akan terbentuk perasaan atau
keinginan untuk menyayangi, memperdulikan, dan merasa bertangung jawab terhadap
hal-hal tertentu yang terjadi pada orang yang dekat dengannya.
e) Atwater (1983) mengemukakan bahwa intimasi mengarah
pada suatu
hubungan yang bersifat informal, hubungan kehangatan antara dua orang yang
diakibatkan oleh persatuan yang lama. Intimasi mengarah pada keterbukaan
pribadi dengan orang lain, saling berbagi pikiran dan perasaan mereka yang
terdalam. Intimasi semacam ini membutuhkan komunikasi yang penuh makna
untuk mengetahui dengan pasti apa yang dibagi bersama dan memperkuat ikatan
yang telah terjalin. Hal tersebut dapat terwujud melalui saling berbagi dan
membuka diri, saling menerima dan menghormati, serta kemampuan untuk
merespon kebutuhan orang lain (Harvey dan Omarzu dalam Papalia dkk, 2001).
hubungan yang bersifat informal, hubungan kehangatan antara dua orang yang
diakibatkan oleh persatuan yang lama. Intimasi mengarah pada keterbukaan
pribadi dengan orang lain, saling berbagi pikiran dan perasaan mereka yang
terdalam. Intimasi semacam ini membutuhkan komunikasi yang penuh makna
untuk mengetahui dengan pasti apa yang dibagi bersama dan memperkuat ikatan
yang telah terjalin. Hal tersebut dapat terwujud melalui saling berbagi dan
membuka diri, saling menerima dan menghormati, serta kemampuan untuk
merespon kebutuhan orang lain (Harvey dan Omarzu dalam Papalia dkk, 2001).
Dalam suatu hubungan juga perlu adanya companionate love,
passionate love dan intimacy love. Karena apabila kurang salah satu saja di
dalam suatu hubungan atau mungkin hanya salah satu di antara ketiganya itu di
dalam suatu hubungan maka yang akan terjadi adalah hubungan tersebut tidak akan
berjalan dengan langgeng atau awet, justru sebaliknya setiap pasangan tidak
merasakan kenyamanan dari pasangannya tersebut sehingga yang terjadi adalah
hubungan tersebut bubar dan tidak akan ada lagi harapan untuk membangun
hubungan yang harmonis dan langgeng.
Komunikasi yang selalu terjaga, kepercayaan, kejujuran dan
saling terbuka pun menjadi modal yang cukup untuk membina hubungan yang
harmonis. Maka jangan kaget apabila komunikasi kita dengan pasangan tidak
berjalan dengan mulus atau selalu terjaga bisa jadi hubungan kita akan terancam
bubar atau hancur. Tentu saja itu akan menyakitkan hati kita dan setiap
pasangan di dunia ini pun tidak pernah menginginkan hal berikut.
E. Intimasi dan Pertumbuhan
Pada tahap remaja
dewasa, dalam teori Erikson, individu akan mengalami tahap Intimacy vs
Isolation. Dimana intimasi akan tumbuh dengan adanya cinta. Cinta ada ketika
individu telah mengenal dirinya sendiri sebagai suatu identitas. Namun
kenyataannya, takut akan terikat dan komitmen menjadi hal yang paling banyak
dialami oleh orang pada tahap ini, sehingga menimbulkan sikap tidak terlalu
tergantung pada bentuk hubungan dekat apapun, khususnya hubungan romantic,
sehingga menimulkan perilaku isolas
2.
Cinta
dan Perkawinan
Cinta adalah sebuah emosi
dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi
cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih
dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif
yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati,
perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti,
patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.
Perkawinan
adalah ikatan sosial atau ikatan perjanjian hukum antar pribadi yang membentuk
hubungan kekerabatan dan yang merupakan suatu pranata dalam budaya setempat
yang meresmikan hubungan antar pribadi yang biasanya intim dan
seksual.Perkawinan umumnya dimulai dan diresmikan dengan upacara pernikahan.
Umumnya perkawinan dijalani dengan maksud untuk membentuk keluarga.
Tergantung budaya setempat
bentuk perkawinan bisa berbeda-beda dan tujuannya bisa berbeda-beda juga. Tapi
umumnya perkawinan itu ekslusif dan mengenal konsep perselingkuhan sebagai
pelanggaran terhadap perkawinan. Perkawinan umumnya dijalani dengan maksud
untuk membentuk keluarga. Umumnya perkawinan harus diresmikan dengan
pernikahan.
A.
Memilih Pasangan
Memilih pasangan hidup bukanlah
perkara mudah. Pasalnya, banyak orang yang merasa tidak sreg ketika mereka ditawari
untuk memilih suami atau memilih istri, tak seperti memilih pacar yang bisa
dengan mudah dilakukan. Menurut mereka, pasangan hidup adalah orang yang diajak
untuk susah senang bersama, yang diharapkan hanya akan ada yang pertama dan
yang terakhir.Itu sebabnya memilih pasangan hidup jauh lebih susah dibandingkan
dengan memilih pekerjaan atau tempat sekolah.
Dalam memilih pasangan hidup, baik
bagi laki-laki maupun perempuan keduanya memiliki hak untuk memilih yang paling
tepat sebagai pasangannya. Maka dari itu harus benar-benar diperhitungkan
ketika memilih pasangan yang baik. Bila ingin pintar, seseorang harus rajin
belajar, bila ingin kaya seseorang harus berhemat, begitu pula tentang pasangan
hidup. Bila menginginkan pasangan hidup yang baik maka kita juga harus baik.
Tak ada sesuatu di dunia ini yang untuk mendapatkannya tidak memerlukan
pengorbanan. Segala sesuatu ada harga-nya termasuk bila ingin mendapatkan
pasangan hidup yang baik. Ya, dimulai dari diri sendiri. Bila kita bercita-cita
untuk mendapatkan pasangan hidup yang baik, maka kita sendiri harus baik.
Percayalah, Tuhan telah memasangkan manusia sesuai dengan karakter dan derajat
mereka masing-masing. Manusia yang baik hanyalah untuk manusia yang baik pula,
begitu pula sebaliknya.
Banyak orang yang pikirannya terlalu
pendek dalam perkara ini sehingga gagal dalam pernikahannya. Prinsipnya adalah
jika kita hanya berpedoman pada hal-hal yang sifatnya duniawi (kecantikan dan
kekayaan) maka akan sangat sulit dalam menjalani hari-hari berumah tangga
nantinya. Karena semua itu sifatnya hanya sementara dan sangat mudah berubah.
Jadi, jika jatuh cinta hanya karena melihat dari segi kecantikan/ketampanan dan
atau kekayaan, maka cinta tersebut akan sangat mudah berkurang bahkan hilang.
Jika kita memang cinta pada seseorang maka lahirlah ketampanan/kecantikan,
bukan sebaliknya. Berikutnya adalah tentang masalah fisik. Banyak yang berkata
bahwa wanita cantik hanya pantas untuk laki-laki tampan, begitu pula
sebaliknya. Dan apa yang terjadi ketika teman kita yang mungkin tak begitu
cantik mendapatkan suami yang tampan dan juga kaya, maka kita biasanya akan
protes. Kita merasa bahwa dirinya tak pantas dan kitalah yang lebih pantas.
Inilah yang menutupi rezeki kita. Perasaan iri dan dengki menutupi rezeki kita untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Orang yang hatinya dipenuhi penyakit hati biasanya akan memancarkan aura negatif. Sebaliknya, orang yang hatinya bersih maka aura positiflah yang akan terpancar keluar dari dalam jiwanya. Tentunya siapa pun pasti akan lebih memilih orang yang memiliki aura positif daripada negatif.
Lalu, mengingat pernikahan itu
adalah sebuah investasi jangka panjang maka kita juga harus melihat calon
pasangan kita dalam jangka panjang. Bolehlah jika dia saat ini belum sukses, belum
kaya, belum pintar, tetapi ketika ada potensi di masa depan dia akan menjadi
lebih baik maka mengapa tidak??? Daripada kita hanya melihat kondisi dia saat
ini tetapi di masa depan justru punya potensi akan meninggalkan kita. Betapa
banyak wanita yang menikah hanya karena melihat prianya saat ini tampan dan
betapa banyak wanita yang menikah karena hanya melihat wanitanya saat ini
cantik. Mereka tidak sadar bahwa 10 tahun lagi bisa jadi ketampanan/kecantikan
tersebut sudah pudar.
Adapun bila kita dihadapkan suatu
pilihan lebih dari satu, tentu sewajarnya seorang akan memilih yang terbaik
baginya, meskipun pilihan terbaik baginya tidak selalu identik dengan pilihan
yang terbaik bagi umum, karena seseorang tentu memiliki pertimbangan yang
sangat khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Maka, ketika sedang memilih calon
pasangan , bukalah mata lebar-lebar. Lihatlah dia secara utuh. Kumpulkan
informasi sebanyak-banyaknya tentang dia, terutama kekurangannya. Karena saya
yakin, kelebihan dari pasangan akan dengan mudah kita terima tetapi kekurangan?
Tanyakanlah pada diri sendiri, mumpung belum akad nikah, apakah siap menerima
kekurangan-kekurangan tersebut?
Terakhir, lihatlah dia tidak hanya
di masa sekarang tetapi juga potensinya di masa depan. Tahukah kalian bedanya
anak-anak dan dewasa? Anak-anak hanya berfikir apa yang ada sekarang sementara
orang dewasa berfikir lebih jauh ke depan. Pernikahan adalah urusannya orang
dewasa maka berfikirlah dewasa
B. Hubungan dalam Perkawinan
Inilah puncak dari segalanya, setelah melewati masa
pacaran dengan baik. Dengan saling mengikarkan janji suci untuk sehidup semati
baik dalam sehat maupun dalam sakit, dalam keadaan kaya atau miskin dan hanya
maut yang bisa memisahkan mereka. Sehingga ikrar suci pernikahan itu, mereka bukan
lagi dua tetapi telah menjadi satu.Tahap ini memulainya sebuah babak baru,
relasi yang ditandai dengan munculnya komitmen tanpa syarat untuk saling
mencintai dan memiliki.
Kalau tahap perkenalan merupakan sebuah pintu gerbang menuju
ke tingkat pacaran, maka tahap pernikahan merupakan puncak dari tingkat
hubungan paling akrab dan mulia yang dilakukan.
C. Penyesuaian dan Pertumbuhan dalam Perkawinan
Hirning dan Hirning (1956) mengatakan bahwa penyesuaian
perkawinan itu lebih kompleks dibandingkan yang terlihat. Dua orang memasuki
perkawinan harus menyesuaikan satu sama lain dengan tingkatan yang
berbeda-beda. Untuk tingkat organismik mereka harus menyesuaikan diri dengan
sensori, motor, emosional dan kapasitas intelektual dan kebutuhan. Untuk
tingkat kepribadian, masing-masing mereka harus menyesuaikan diri dengan
kebiasaan, keterampilan, sikap, ketertarikan, nilai-nilai, sifat, konsep ego,
dan kepercayaan. Pasangan juga harus menyesuaikan dengan lingkungan mereka,
termasuk rumah tangga yang baru, anak-anak, sanak keluarga, teman, dan
pekerjaan.
Duvall dan Miller (1985) mengatakan bahwa penyesuaian
perkawinan itu adalah proses membiasakan diri pada kondisi baru dan berbeda
sebagai hubungan suami istri dengan harapan bahwa mereka akan menerima tanggung
jawab dan memainkan peran sebagai suami istri. Penyesuaian perkawinan ini juga
dianggap sebagai persoalan utama dalam hubungan sebagai suami istri.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penyesuaian
perkawinan adalah dua orang memasuki tahap perkawinan dan mulai membiasakan
diri dengan situasi baru sebagai suami istri yang saling menyesuaikan dengan
kepribadian, lingkungan, kehidupan keluarga, dan saling mengakomodasikan
kebutuhan, keinginan dan harapan.
D. Perceraian dan Pernikahan kembali
Perceraian
merupakan terputusnya hubungan antara suami istri, yang dalam hal ini adalah
cerai hidup yang disebabkan oleh kegagalan suami atau istri dalam menjalankan
obligasi peran masing-masing. Dimana perceraian dipahami sebagai akhir dari
ketidakstabilan perkawinan antara suami istri yang selanjutnya hidup secara
terpisah dan diakui secara sah berdasarkan hukum yang berlaku.
Hubungan
suami-istri juga dapat dilihat dan dibedakan berdasarkan pola perkawinan yang
ada dalam masyarakat. Scanzoni dan Scanzoni (1981) mengkatagorikannya ke dalam
empat bentuk pola perkawinan yaitu owner property, head complement, senior
junior partner dan equal partner. Kestabilan keluarga tampak lebih kondusif
berlangsung dalam pola perkawinan kedua dan ke tiga dimana posisi istri mulai berkembang
menjadi pelengkap suami dan teman yang saling membantu dalam mengatur kehidupan
bersama. Sementara itu hal sebaliknya dapat terjadi pada pola perkawinan equal
partner.
Pengakuan
hak persamaan kedudukan dengan pria menyebabkan semakin tidak tergantungnya
istri pada suami. Istri mendapat dukungan dan pengakuan dari orang lain karena
kemampuannya sendiri dan tidak dikaitkan dengan suami. Di antara ke empat pola
ini menjelaskan tingkat perceraian cenderung lebih tinggi pada pola perkawinan
owner properti. Oleh karena pola perkawinan owner property berasumsi bahwa
istri adalah milik suami, seperti halnya barang-barang berharga lainnya di
dalam keluarga itu yang merupakan miliki dan tanggung jawab suami. Istri sangat
tergantung secara sosial ekonomi kepada suami. Akibat dari pola perkawinan
seperti ini suami berhak menceraikan istrinya apabila tidak merasakan mendapat
kepuasaan yang diinginkan ataupun tidak menyukai istrinya lagi.
E. Alternatif selain Pernikahan
Paradigma terhadap lajang cenderung memojokkan.
pertanyaannya kapan menikah?? Ganteng-ganteng kok ga menikah? Apakah Melajang
Sebuah Pilihan??
Ada banyak alasan untuk tetap melajang. Perkembangan jaman,
perubahan gaya hidup, kesibukan pekerjaan yang menyita waktu, belum bertemu
dengan pujaan hati yang cocok, biaya hidup yang tinggi, perceraian yang kian
marak, dan berbagai alasan lainnya membuat seorang memilih untuk tetap hidup
melajang. Batasan usia untuk menikah kini semakin bergeser, apalagi tingkat
pendidikan dan kesibukan meniti karir juga ikut berperan dalam memperpanjang
batasan usia seorang untuk menikah. Keputusan untuk melajang bukan lagi
terpaksa, tetapi merupakan sebuah pilihan. Itulah sebabnya, banyak pria dan
perempuan yang memilih untuk tetap hidup melajang.
Persepsi masyarakat terhadap orang yang melajang, seiring
dengan perkembangan jaman, juga berubah. Seringkali kita melihat seorang yang
masih hidup melajang, mempunyai wajah dan penampilan di atas rata-rata dan
supel. Baik pelajang pria maupun wanita, mereka pun pandai bergaul, memiliki
posisi pekerjaan yang cukup menjanjikan, tingkat pendidikan yang baik.
Alasan yang paling sering dikemukakan oleh seorang single
adalah tidak ingin kebebasannya dikekang. Apalagi jika mereka telah sekian lama
menikmati kebebasan bagaikan burung yang terbang bebas di angkasa. Jika hendak
pergi, tidak perlu meminta ijin dan menganggap pernikahan akan membelenggu
kebebasan. Belum lagi jika mendapatkan pasangan yang sangat posesif dan
cemburu.
Banyak perusahaan lebih memilih karyawan yang masih
berstatus lajang untuk mengisi posisi tertentu. Pertimbangannya, para pelajang
lebih dapat berkonsentrasi terhadap pekerjaan. Hal ini juga menjadi alasan
seorang tetap hidup melajang.
Banyak pria menempatkan pernikahan pada prioritas kesekian,
sedangkan karir lebih mendapat prioritas utama. Dengan hidup melayang, mereka
bisa lebih konsentrasi dan fokus pada pekerjaan, sehingga promosi dan kenaikan
jabatan lebih mudah diperoleh. Biasanya, pelajang lebih bersedia untuk bekerja
lembur dan tugas ke luar kota dalam jangka waktu yang lama, dibandingkan
karyawan yang telah menikah.
Referensi
:
- http://id.wikipedia.org/wiki/Perkawinan
- http://id.wikipedia.org/wiki/Cinta
- Adhim, Mohammad Fauzil (2002) Indahnya
Perkawinan Dini Jakarta: Gema Insani Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar