Nama : Septiyandi
Kelas : 2PA14
Npm : 18513399
A. PENYESUAIAN
DIRI
Arti
Penyesuaian Diri
Penyesuaian
diri (adjustment) merupakan suatu istilah yang sangat sulit
didefinisikan karena (1) penyesuaian diri mengandung banyak arti, (2) criteria
untuk menilai penyesuaian diri tidak dapat dirumuskan secara jelas, dan (3)
penyesuaian diri (adjustment) dan lawannya ketidakmampuan menyesuaikan
diri (maladjustment) memiliki batas yang sama sehingga akan mengaburkan
perbedaan diantara keduanya. Dengan demikian, apabila kita mau menghilangkan
kekacauan atau salah pengertian mengenai apa itu penyesuaian diri, maka kita
harus tahu konsep-konsep dasarnya.
Penyesuaian
Diri sebagai Adaptasi
Secara
historis arti istilah “penyesuaian diri” sudah mengalami banyak perubahan.
Karena kuatnya pengaruh pemikiran evolusi pada psikologi, maka penyesuaian diri
disamakan dengan adaptasi, yaitu proses dimana organism yang agak sederhana
mematuhi tuntutan-tuntutan lingkungan. Meskipun ada persamaan diantara kedua
istilah tersebut, namun penyesuaian diri yang kompleks tidak cocok dengan
konsep adaptasi biologis yang sederhana. Erich Fromm dalam bukunya, Escape
from Freedom, (Fromm, 1941) mengemukakan konsep adaptasi yang menarik dan
berguna yang mendekati ide penyesuaian diri. Fromm membedakan apa yang
dinamakannya adaptasi statis dan adaptasi dinamik. Ia menggunakan adaptasi
statis untuk menyebut perubahan kebiasaan yang relatif sederhana, misalnya
orang berpindah dari satu kota kekota yang lain. Sedangkan adaptasi dinamik
adalah sistuasi dimana seseorang menerima hal-hal meskipun menyakitkan,
misalnya seorang anak laki-laki tunduk kepada perintah ayah yang keras dan
mengancam. Fromm menafsirkan neurosis sebagai respons dinamik, adaptasi yang
sama dengan penyesuaian diri.
Penyesuaian
Diri dan Individualitas
Dalam
mendefinisikan penyesuaian diri, kita tidak boleh melupakan perbedaan
–perbedaan individual. Anak yang sangat cerdas atau genius tidak sesuai dengan
pola “normal”, baik dalam kapasitas maupun dalam tingkah lakunya, tetapi kita
tidak dapat menyebutnya sebagai orang yang tidak dapat menyesuaikan diri.
Sering kali norma-norma sosial dan budaya begitu kaku untuk dituruti dengan
baik. Misalnya, sering terjadi dibeberapa Negara, warga Negara menolak
undang-undang abortus atau sterilisasi yang dikeluarkan oleh Negara. Orang yang
tidak dapat menerima undang-undang ini, tidak dapat tidak dapat dianggap
sebagai orang yang tidak dapat menyesuaikan diri.
Penyesuaian
Diri sebagai Penguasaan
Penyesuaian
diri yang baik kelihatannya mengandung suatu tingkat penguasaan yang baik pula,
yaitu kemampuan untuk merencanakan atau mengatur respons-respons pribadi
sedemikian rupa sehingga konflik-konflik, kesulitan-kesulitan dan
frustasi-frustasi akan hilang dengan munculnya tingkah laku yang efisien atau
yang menguasai. Gagasan ini jelas berguna tetapi tidak memperhitungkan
kelemahan-kelemahan individual. Kebanyakan orang tidak memiliki kemampuan yang
dituntut oleh penguasaan itu. pemimpin-pemimpin, orang-orang ang genius, dan
orang-orang yang IQ-nya diatas rata-rata mungkin diharapkan memperlihatkan
penguasaan yang luar biasa itu, tetapi meskipun demikian orang-orang ini pun
sering mengalami kegagalan. Ini justru mengingatkan kita bahwa setiap orang
memiliki tingkat penyesuaian dirinya sendiri, yang ditentukan oleh
kapasitas-kapasitas bawaan, kecenderungan-kecenderungan yang diperoleh, dan
pengalaman.
Definisi
Penyesuaian Diri
Dari
segi pandangan psikologis, penyesuaian diri memiliki banyak arti, seperti
pemuasan kebutuhan, keterampilan dalam menangani frustasi dan konflik, ketenangan
pikiran/jiwa, atau bahkan pembentukan simtom-simtom. Itu berarti belajar
bagaimana bergaul dengan baik dengan orang lain dan bagaimana menghadapi
tuntutan-tuntutan pekerjaan. Tyson menyebut hal-hal seperti kemampuan untuk
beradaptasi, kemampuan berafeksi, kehidupan yang seimbang, kemampuan untuk
mengambil keuntungan dari pengalaman, toleransi terhadap frustasi, humor, sikap
yang tidak ekstrem, objektivitas, dan lain-lain (Tyson, 1951).
Kita
tidak dapat mengatakan bahwa penyesuaian diri itu baik atau buruk. Kita hanya
dapat mengatakan bahwa penyesuaian diri adalah cara individual atau khusus
organismedalam bereaksi terhadap tuntutan-tuntutan dari dalam atau
situasi-situasi dari luar. Untuk beberapa orang mungkin reaksi ini bisa
efisien, sehat atau memuaskan. Sementara untuk orang lain reaksi ini
melumpuhkan, tidak efektif, atau bahkan patologik.
Jadi,
kita dapat mendefinisikan dengan sederhana, bahwa penyesuaian diri itu adalah
suatu proses yang melibatkan respons-respons mental dan tingkah laku yang menyebabkan
individu berusaha menanggulangi kebutuhan-kebutuhan, tegangan-tegangan,
frustasi-frustasi, dan konflik-konflik batin serta menyelaraskan
tuntutan-tuntutan batin ini dengan tuntutan-tuntutan yang dikenakan kepadanya
oleh dunia dimana ia hidup. Dalam arti ini, kebanyakan respons cocok dengan
konsep penyesuaian diri.
Konsep
Penyesuaian Diri yang Baik
Apa
itu penyesuaian diri yang baik? Pasti itu yang ada dibenak kita setelah kita
mendengar konsep penyesuaian diri yang baik. Orang yang dapat menyesuaikan diri
dengan baik adalah orang yang memiliki respons-respons yang matang, efisien,
memuaskan dan sehat. Sebaliknya, orang yang neurotic adalah orang yang sangat
tidak efisien dan tidak pernah menangani tugas-tugas secara lengkap.
Istilah
“sehat” berarti respons yang baik untuk kesehatan, yakni cocok dengan kodrat
manusia, dalam hubungannya dengan orang lain dan dengan tanggung jawabnya.
Kesehatan merupakan cirri yang sangat khas dalam penyesuaian diri yang baik.
singkatnya, meskipun memiliki kekurangan-kekurangan kepribadian, ornag yang
dapat menyesuaikan diri dengan baik dapat bereaksi secara efektif terhadap
situasi-situasi yang berbeda, dapat memecahkan konflik-konflik,
frustasi-frustasi dan masalah-masalah tanpa menggunakan tingkah laku yang simtomatik.
Karena itu, ia relative bebas dari simtom-simtom, seperti kecemasan kronis,
obsesi, atau gangguan-gangguan psikofisiologis (psikosomatik). Ia menciptakan
dunia hubungan antarpribadi dan kepuasan-kepuasan yang ikut menyumbangkan
kesinambungan pertumbuhan kepribadian.
Penyesuaian
Diri adalah Relatif
Penyesuaian
diri seperti yang telah dirumuskan diatas adalah relatif karena tidak ada orang
yang dapat menyesuaikan diri secara sempurna. Penyesuaian diri harus dinilai
berdasarkan kapasitas individu untuk mengubah dan menanggulangi
tuntutan-tuntutan yang dihadapi dan kapasitas ini berbeda-beda menurut
kepribadian dan tingkat perkembangan.
Penyesuaian
diri juga bersifat relatif karena berbeda-beda menurut norma-norma sosial dan
budaya, serta individu itu sendiri pun berbeda-beda dalam bertingkah laku.
Bahkan orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik kadang-kadang merasa
bahwa ia menghadapi situasi atau masalah yang melampaui kemampuannya untuk
menyesuaikan diri.
Penyesuaian
Diri versus Moralitas
Pemakaian
baik dan buruk menempatkan seorang psikolog dalam ilmu kesehatan mental dalam
posisi untuk membuat penilaian terhadap tingkah laku yang sebenarnya diharapkan
tidak dilakukan oleh seorang ilmuwan. Tetapi dapat dikemukakan di sini bahwa
keputusan untuk menilai bukan sesuatu yang khas bagi bidang ilmu moral atau
etika. Setiap orang dapat berbicara tentang kesehatan yang baik dan buruk, atau
cuaca yang baik atau buruk dengan tidak memperhatikan pandangan moral atau
etika. Kita tidak melihat tingkah laku yang tidak dapat menyesuaikan diri
sebagai sesuatu yang secara moral buruk atau juga orang yang dapat menyesuaikan
diri dengan baik sabagai teladan kebajikan yang sempurna. Kemampuan
menyesuaikan diri tidak dapat disamakan dengan kebajikan, atau ketidakmampuan
menyesuaikan diri disamakan dengan dosa. (Mowrer, 1960). Tetapi sering kali
terjadi bahwa imoralitas merupakan akar dari ketidakmampuan menyesuaikan diri
dan sudah pasti penyesuaian diri yang sehat dalam pengertian yang sangat luas
harus juga mencakup kesehatan moral.
B. PERTUMBUHAN
PERSONAL
Banyak kualitas penyesuaian diri yang baik mengandung
implikasi-implikasi yang khas bagi pertumbuhan pribadi. Ide ini terkandung
dalam kriteria perkembangan diri yang berarti pertumbuhan kepribadian yang
terus-menerus kearah tujuan kematangan dan prestasi pribadi. Setiap langkah
dalam proses pertumbuhan dari masa bayi sampai masa dewasa harus menjadi
kemajuan tertentu kearah kematangan tang lebih besar dalam pikiran, emosi,
sikap dan tingkah laku. Pelekatan (fiksasi) pada setiap tingkat perkembangan
bertentangan dengan penyesuaian diri yang adekuat, misalnya
menggigit kuku, menghisap jempol, ngompol, ledakan amarah, atau membutuhkan
sangat banyak kasih sayang dan perhatian. Perkembangan diri disebabkan oleh
realisasi kematangan yang terjadi secara tahap demi tahap.
Pertumbuhan
kepribadian ditingkatkan oleh banyaknya minat terhadap pekerjaan dan
kegemaran. Sulit menyesuaikan diri dengan baik terhadap tuntutan-tuntutan
pekerjaan yang tidak menarik dan membosankan, dan segera pekerjaan itu menjadi
hal yang tidak menyenangkan atau menjijikkan. Tetpi, kita memiliki cara
tertentu untuk mengubah dan mengganti pekerjaan yang merangsang minat kita
sehingga kita dapat memperoleh kepuasan terus-menerus dalam pekerjaan.
Pertumbuhan
pribadi tergantung juga pada skala nilai yang adekuat dan tujuan yang
ditetapkan dengan baik, kriteria yang selalu dapat digunakan seseorang untuk
menilai penyesuaian diri. Skala nilai atau filsafat hidup adalah seperangkat
ide, kebenaran, keyakinan, dan prinsip membimbing seseorang dalam berpikir,
bersikap, dan dalam berhubungan dengan diri sendiri dan orang lain dalam
memandang kenyataan dan dalam tingkah laku sosial, moral dan agama. Seperangkat
nilai inilah yang akan menentukan apakah kenyataan itu besifat mengancam,
bermusuhan, sangat kuat, atau tidak patut menyesuaikan diri dengannya.
Penyesuaian diri memerlukan penanganan yang efektif terhadap masalah dan stress
yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, dan pemecahan masalah dan stress
itu akan ditentukan oleh nilai-nilai yang kita bawa berkenaan dengan situasi
itu. kita seringkali mendengar orang-orang menjadi berantakan dan dengan
demikian mendapat gangguan emosi dan tidak bahagia. Orang-orang tersebut tidak
yakin mengenai hal yang baik atau buruk, benar atau salahh, bernilai atau tidak
bernilai. Mereka tidak memiliki pengetahuan, nilai, atau prinsip yang akan
menyanggupi mereka untuk mereduksikan kebimbangan atau konflik yang secara
emosional sangat mengganggu.
Dalam
proses pematangan, perkembangan situasi sistem nilai akan meliputi juga tujuan
jangka pendek dan jangka panjang yang menjadi inti dari integrasi dan tingkah
laku menyesuaikan diri. orang yang memiliki tujuan-tujuan yang ditetapkan
dengan baik bertindak secara terarah dan bertujuan, meskipun terkadang
terganggu oleh kehilangan arah, kebosanan, kekurangan minat dan dorongan. Dalam
salah satu penelitian mengenai pengaruh-pengaruh dari tercapainya tujuan di
kalangan para mahasiswa, telah ditemukan bahwa arah tujuan ada hubunganya
dengan peningkatan keyakinan, perbaikan harga nilai, dan pembaruan usaha.
Pengaruh umum dari tercapainya tujuan adalah tegangan direduksikan.
Kriteria
terakhir untuk menilai penyesuaian diri adalahh sikap terhadap kenyataan.
Penyesuaian diri yang baik memerlukan sikap yang sehat dan realistic yang menyanggupi
seseorang untuk menerima kenyataan sebagaimana adanya bukan sebagaimana
diharapkan atau diinginkan. Kriteria ini dipakai pada segi-segi kenyataan dalam
waktu dan ruang. Ada orang yang hidup dalam dunia mimpi tentang peristiwa masa
lampau yang sangat menghargai kenangan-kenangan pada masa kanak-kanak, dan
baginya masa sekarang adalah suatu kenyataan yang jelek, dan masa yang akan
datang merupakan sesuatu yang menakutkan.
Adolph
Meyer berpendapat bahwa kapasitas untuk menggunakan masa lampau dan bukan
semata-mata menderita karenanya adalah perlu untuk penyesuaian diri bahwa
penangan harus dipakai untuk menangani kenyataan sekarang dan kesempatan yang
kreatif dapat direalisasikan dengan tinjauan yang sehat ke masa depan. Sikap
yang sehat terhadap masa lampau, masa sekarang dan masa depan sangat penting
untuuk penyesuaian diri yang sehat.
Factor
yang mempengaruhi pertumbuhan personal ;
1. Faktor biologis
Karakteristik
anggota tubuh yang berbeda setiap orang, kepribadian, atau warisan biologis
yang sangat kental.
2. Faktor geografis
Faktor
lingkungan yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorangdan nantinya akan
menentukan baik atau tidaknya pertumbuhan personal seseorang.
3. Faktor
budaya
Tidak
di pungkiri kebudayaan juga berpengaruh penting dalam kepribadian seseorang,
tetapi bukan berarti setiap orang dengan kebudayaan yang sama memiliki
kepribadian yang sama juga.
Selain itu, ada satu hal yang tidak kalah penting berkaitan
dengan penyesuaian diri dan pertumbuhan personal adalah komunikasi. Dengan
kemampuan komunikasi yang baik maka penyesuaian diri dan pertumbuhan personal
seseorang juga akan berjalan baik.
2. Stres
A.
Arti
Penting Stres
Stress juga dibutuhkan dalam kehidupan ini, jika seseorang
tidak pernah mengalami stress hidupnya akan hampa, tidak ada yang namanya
tantangan. Stress tidak berarti negatif (distress), stresspun ada yang bersifat
positif (uestress) untuk menyeimbangkan proses kehidupan kita.
· Efek-Efek stress menurut hans selye
Menurut Hans Selye, ahli endokrinologi terkenal di awal 1930
tidak semua jenis stres bersifat merugikan. Berikut adalah beberapa efek dari
stress:
1. Local Adaptation Stres.
Local Adaptation Stress adalah ketika tubuh menghasilkan
banyak respon setempat terhadap stres. Respon setempat ini contohnya seperti
pembekuan darah, penyembuhan luka, akomodasi cahaya, dan masih banyak lagi.
Responnya berlangsung dalam jangka yang sangat pendek. Karakteristik dari LAS
adalah respon yang terjadi hanya setempat dan tidak melibatkan semua system,
respon bersifat adaptif sehingga diperlukan stresor untuk menstimulasinya,
respon bersifat jangka pendek dan tidak terus menerus, dan respon bersifat
restorative.
2. General Adaptation Syndrome
General Adaptation Syndrome adalah istilah penting dari Hans
Selye yang ditemukan saat membahas tentang stress. Menurutnya ketika organisme
berhadapan dengan stressor, dia akan mendorong dirinya sendiri untuk melakukan
tindakan. Usaha ini diatur oleh kelenjar adrenal yang menaikkan aktivitas
sistem syaraf simpatetik. Reaksi fisiologis tubuh terhadap perubahan-perubahan
akibat stress itulah yang disebut sebagai General Adaption Syndrome. GAS
terdiri dalam tiga fase :
a. Alarm
reaction (reaksi peringatan) pada fase ini tubuh dapat mengatasi stressor
dengan baik. Apabila ada rasa takut atau cemas atau khawatir tubuh akan
mengeluarkan adrenalin, yaitu hormon yang mempercepat katabolisme untuk
menghasilkan energi untuk persiapan menghadapi bahaya mengacam ditandai dengan
denyut jantung bertambah dan otot berkontraksi.
b. The stage
of resistance (reaksi pertahanan). Reaksi terhadap stressor sudah mencapai atau
melebihi tahap kemampuan tubuh. Pada keadaan ini, mulai timbul gejala-gejala
psikis dan somatis. Respon ini disebut juga coping mechanism. Coping berarti
kegiatan menghadapi masalah, misalnya kecewa diatasi dengan humor.
c. Stage
of exhaustion (reaksi kelelahan). Pada fase ini gejala-gejala psikosomatik tampak
dengan jelas. Gejala psikosomatis antara lain gangguan penceranaan, mual,
diare, gatal-gatal, impotensi, exim, dan berbagai bentuk gangguan lainnya.
B. Tipe tipe stress
psikologi
Tekanan (pressures)
Tekanan terjadi karena adanya suatu tuntutan untuk mencapai
sasaran atau tujuan tertentu maupun tuntutan tingkah laku tertentuSecara umum
tekanan mendorong individu untuk meningkatkan performa, mengintensifkan usaha
atau mengubah sasaran tingkah laku. Tekanan sering ditemui dalam kehidupan
sehari-hari dan memiliki bentuk yang
berbeda-beda pada setiap individu. Tekanan dalam beberapa kasus tertentu dapat
menghabiskan sumber-sumber daya yang dimiliki dalam proses pencapaian
sasarannya, bahkan bila berlebihan dapat mengarah pada perilaku maladaptive.
Tekanan dapat berasal dari sumber internal atau eksternal atau kombinasi dari
keduanya.Tekanan internal misalnya adalah sistem nilai, self esteem, konsep
diri dan komitmen personal. Tekanan eksternal misalnya berupa tekanan waktu
atau peranyang harus dijalani seseorang, atau juga dpat berupa kompetisi dalam
kehidupan sehari-hari di masyarakat antara lain dalam pekerjaan, sekolah dan
mendapatkan pasangan hidup.
·
Frustasi
Frustasi dapat terjadi apabila usaha individu untuk mencapai
sasaran tertentu mendapat hambatan atau hilangnya kesempatan dalam mendapatkan
hasil yang diinginkan. Frustasi juga dapat diartikan sebagai efek psikologis
terhadap situasi yang mengancam, seperti misalnya timbul reaksi marah, penolakan maupun
depresi.
·
Konflik
Konflik terjadi ketika individu berada dalam tekanan dan
merespon langsung terhadap dua atau lebih dorongan, juga munculnya dua
kebutuhan maupun motif yang berbeda dalam waktu bersamaan. Ada 3 jenis konflik
yaitu :
Approach – approach conflict, terjadi apabila individu harus
satu diantara dua alternatif yang sama-sama disukai, misalnya saja seseorang
sulit menentukan keputusan diantara dua pilihan karir yang sama-sama
diinginkan. Stres muncul akibat hilangnya kesempatan untuk menikmati alternatif
yang tidak diambil. Jenis konflik ini biasanya sangat mudah dan cepat
diselesaikan.
·
Avoidence – avoidence conflict,
terjadi bila individu diharapkan pada dua pilihan yang sama- sama tidak
disenangi, misalnya wanita muda yang hamil muda yang hamil diluar nikah, di
satu sisi ia tidak ingin aborsi tapi di sisi lain ia belum mampu secara mental
dan finansial untuk membesarkan anaknya nanti. Konflik jenis ini lebih sulit
diputuskan dan memerlukan lebih banyak tenaga dan waktu untuk menyelesaikannya
karena masing-masing alternatif memilki konsekuensi yang tidak menyenangkan.
·
Approach – avoidence conflict,
adalah situasi dimana individu merasa tertarik sekaligus tidak menyukai atau
ingin menghindar dari seseorang atau suatu objek yang sama, misalnya seseorang
yang berniat berhenti merokok, karena khawatir merusak kesehatannya tetapi ia
tidak dapat membayangkan sisa hidupnya kelak tanpa rokok
Berdasarkan pengertian stressor diatas dpat disimpulkan
kondisi fisik, lingkungan dan sosial
yang menjadi penyebab dari kondisi stres.
C.
Pengertian Symptom -Reducing Responses terhadap Stress
Kehidupan akan terus berjalan
seiring dengan brjalannya waktu. Individu yang mengalami stress tidak akan
terus menerus merenungi kegagalan yang ia rasakan. Untuk itu setiap individu
memiliki mekanisme pertahanan diri masing-masing dengan keunikannya
masing-masing untuk mengurangi gejala-gejala stress yang ada.
Mekanisme Pertahanan Diri
Indentifikasi
adalah suatu cara yang digunakan individu untuk mengahadapi orang lain dengan
membuatnya menjadi kepribadiannya, ia ingin serupa dan bersifat sama seperti
orang lain tersebut. Misalnya seorang mahasiswa yang menganggap dosen
pembimbingnya memiliki kepribadian yang menyenangkan, cara bicara yang ramah,
dan sebagainya, maka mahasiswa tersebut akan meniru dan berperilaku seperti dosennya.
Kompensasi
Seorang individu tidak memperoleh
kepuasan dibidang tertentu, tetapi mendapatkan kepuasaan dibidang lain.
Misalnya Andi memiliki nilai yang buruk dalam bidang Matematika, namun prestasi
olahraga yang ia miliki sangat memuaskan.
Overcompensation / Reaction
Formation
Perilaku seseorang yang gagal
mencapai tujuan dan orang tersebut tidak mengakui tujuan pertama tersebut
dengan cara melupakan serta melebih-lebihkan tujuan kedua yang biasanya
berlawanan dengan tujuan pertama. Misalnya seorang anak yang ditegur gurunya
karena mengobrol saat upacara, beraksi dengan menjadi sangat tertib saat
melaksanakan upacara san menghiraukan ajakan teman untuk mengobrol.
·
Sublimasi
Sublimasi adalah suatu mekanisme
sejenis yang memegang peranan positif dalam menyelesaikan suatu konflik dengan
pengembangan kegiatan yang konstruktif. Penggantian objek dalam bentuk-bentuk
yang dapat diterima oleh masyarakat dan derajatnya lebih tinggi. Misalnya sifat
agresifitas yang disalurkan menjadi petinju atau tukang potong hewan.
·
Proyeksi
Proyeksi adalah mekanisme perilaku
dengan menempatkan sifat-sifat bain sendiri pada objek diluar diri atau
melemparkan kekurangan diri sendiri pada orang lain. Mutu Proyeksi lebih rendah
daripada rasionalisasi. Contohnya seorang anak tidak menyukai temannya, namu n
ia berkata temannya lah yang tidak menyukainya.
·
Introyeksi
Introyeksi adalah memasukan dalam
diri pribadi dirinya sifat-sifat pribadi orang lain. Misalnya seorang wanita mencintai
seorang pria lalu ia memasukkan pribadi pria tersebut ke dalam pribadinya.
·
Reaksi
Konversi
Secara singkat mengalihkan koflik ke
alat tubuh atau mengembangkan gejala fisik. Misalnya belum belajar saat
menjelang bel masuk ujan, seorang anak wajahnya menjadi pucat berkeringat.
·
Represi
Represi adalah konflik pikiran,
impuls-impuls yang tidak dapat diterima dengan paksaan ditekan ke dalam alam
tidak sadar dan dengan sengaja melupakan. Misalnya seorang karyawan yang dengan
sengaja melupakan kejadian saat ia di marahi oleh bosnya tadi siang.
·
Supresi
Supresi yaitu menekan konflik impuls
yang tidak dapat diterima secara sadar. Individu tidak mau memikirkan hal-hal
yang kurang menyenangkan dirinya. Misalnya dengan berkata "Sebaiknya kita
tidak membicarakan hal itu lagi."
·
Denial
Denial adalah mekanisme perilaku
penolakan terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan. Misalnay seorang penderita
diabetes memakan semua makanan yang menjadi pantangannya.
·
Regresi
Regresi adalah mekanisme perilaku seorang
yang apabila menghadapi konflik frustasi, ia menarik diri dari pergaulan.
Misalnya artis yang sedang digosipkan selingkuh karena malu maka ia menarik
diri dari perkumpulannya.
·
Fantasi
Fantasi adalah apabila seseorang
menghadapi konflik-frustasi, ia menarik diri dengan berkhayal/berfantasi,
misalnya dengan lamunan. Contoh seorang pria yang tidak memilki keberanian
untuk menyatakan rasa cintanya melamunkan berbagai fantasi dirinya dengan orang
yang ia cintai.
·
Negativisme
Adalah perilaku seseorang yang
selalu bertentangan / menentang otoritas orang lain dengan perilaku tidak
terpuji. Misalkan seorang anak yang menolak perintah gurunya dengan bolos
sekolah.
·
Sikap
Mengritik Orang Lain
Bentuk pertahanan diri untuk
menyerang orang lain dengan kritikan-kritikan. perilaku ini termasuk perilaku
agresif yang aktif. Misalkan seorang karyawan yang berusaha menjatuhkan
karyawan lain dengan adu argument saat rapat berlangsung.
D. Pendekatan Problem Solving terhadap
Stress
Salah satu
cara dalam menangani stress yaitu menggunakan metode biofeddback, tekniknya adalah mengetahui bagian-bagian tubuh
mana yang terkena stress kemudian belajar untuk menguasainya. Tekhnik ini
menggunakan serangkaian alat yang sangat rumit sebagai Feedback.
Melakukan sugesti untuk diri sendiri
juga dapat lebih efektif karena kita tahu bagaimana keadaan diri kita sendri.
Berikan sugesti-sugesti yang positif, semoga cara ini akan berhasil ditambah
dengan pendekatan secara spiritual (mengarah pada Tuhan).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar