Ramadhan Ayah
Ramadhan
selalu membuat kampung kami bergairah. Orang orang seprti berlomba memperbanyak
ibadah. Bahkan, banyak diantara mereka yang sebelumnya tak pernah datang
kemasjid, tiba tiba dibulan ramadhan ini rajin ke masjid. Tetapi sayang, Ayah,
laki laki tua yang suka mendengus dan meludah tetap tidak berubah. Setiap
malam, Ayah masih suka begadang di gardu ronda dekat pasar, sibuk memelototi
kartu ceki dan sedikit minum alcohol; mabuk. Pulang jam 5 pagi dengan langkah
gontai danb mata merah, berpapasan dengan oprang-orang yang baru pulang dari
masjid.
Kami,
anak-anaknya, sebenarnya malu melihat tingkah laku ayah. Tetapi, la,I tak
berani memperingtkannya. Kecuali, kami siap mendapat tamparan di pipi dan
tendangan di pantat. Dan begitulah, kami: aku dan kedua adikku, tumbuh sebagai
anak-anak yang terkesan pendiam dan patuh kepada orang tua. Meski kepatuhan
kami, terutama kepada ayah, karena terpaksa. Tetapi, itu tidak masalah. Karena
bagi kami, yang terpenting adalah menghindari tamparan dan caci maki ayah yang
mengundang perhatian tetangga kanan kiri. Dan itu artinya kami tidak menyakiti
perasaan ibu. Sebab, diantara kami, ibulah yang paling banyak menanggung malu
jika ayah marah-marah sampai mengeluarkan kata-kata kasar dan jorok.
Ibu
adalah kesejukan embun dipagi hari. Tatapanm matanya menentramkan hati kami.
Menyegarkan kekeringan jiwa kami. Ibu laksana batu karang yang berdiri kokoh
ditengah hempasan gelombang. Ibu tak marah meski perlakuan ayah demikian
menyakitkan. Ibu tertunduk diam, dan paling-paling hanya menangis tersedu-sedu
ketika ayah memarahi, membentak-bentak, bahkan menamparnya. Mungkin bagi ibu,
kepatuhan pada suami merupakan nilai ibadah tersendiri. Entahlah.
Sayang,
orang yang sangat kami sayangi itu telah pulang kepangkuan-Nya. Ramadhan tahun
lalu, ibu meninggalkan kami untuk selama-lamanya ketika sesungguhnya kami masih
sangat membutuhkan kehadirannya. Dan mungkin, itulah awal petaka yang menimpa
keluarga kami. Ayah semakin jarang berada dirumah. Selain menghambur-hamburkan
uang dimeja judi, ayah juga mulai berani main perempuan. Bahkan, beberapa kali
ayah sempat membawa perempuan menginap dirumah. Kami sangat tersiksa melihat
kelakuan ayah. Tetangga kanan-kiri sepertinya juga jijik melihat keluarga kami.
Sedikit
demi sedikit, perabotan rumah tangga dijual ayah. Kami tak bisa berbuat apa-apa
selain menatap hampa ketika ayah dan beberapa temannya datang dengan membawa
truk lalu mengangkut meja, kursi, lemari, dan barang lainnya. Seorang teman
ayah bilang kepada saya, bahwa ayah kalah judi jutaan rupiah, sehingga barang-
barang tersebut harus disita?
Dulu,
saya mengira ayah akan berubah menjadi baik sepeninggalannya ibu. Saya masih
ingat bagaimana pesan terakhir ibu pada ayah, hanya beberapa menit sebelum ajal
menjemput. Ketika itu, kami anak-anaknya dan juga ayah, ada disamping ibu yang
terbaring lemah diatas ranjang. Denga terputus-putus, ibu bilang kepada ayah
agar mau menjalankan ibadah puasa dibulan ramadhan. Ayah diam tak berkutik. Dan
baru kali itu, saya lihat ayah yang biasanya garang dan angker, mendadak
berubah lembut. Sorot matanya redup seperti menyiratkan kesedihan dan
penyesalan.
Ternyata,
kesedihan ayah tak berlangsung lama. Hanya tiga minggu setalah lebaran, ayah
mulai pada kebiasaan lamanya. Bahkan semakin bertambah parah.
Tidak
tehan mendengar gunjingan tetangga kanan-kiri, saya memberanikan diri
mengingatkan ayah agar mau melaksanakan pesen terakhir ibu, setidaknya bersikap
baik di bulan Ramadhan. Tetapi, ayah justru tertawa. Katanya, “ kamu pikir,
kalau aku puasa, lantas kita akan jadi kaya, heh? Kamu rajin puasa, bahkan
puasa senin-kamis, tapi apa tuhan terus kasih duit sama kamu? Kamu masih tetap
miskin. Sudahlah, aku gak mau ngomong lagi soal itu. Aku mau puasa atau tidak,
itu urusanku sendiri. Kamu tidak perlu ikut campur!”
Lain
kali, pernah juga saya katakana kepada ayah bahwa puasa itu tujuannya bukan
untuk mencari rezeki, bukan agar bisa kaya raya, tetapi semata-mata untuk
mendekatkan diri kepada Allah karena dengan begitu, akan terhindar dari perbuatan
tidak terpuji. Namun, ayah justru marah-marah. Sambil menggebrak meja, ayah
bilang, “anak kemarin sore, tau apa kamu tentang hidup! Hidup itu makan. Dan
makan itu perlu duit!”
Sejak
itu, saya tidak pernah bercakap-cakap dengan ayah. Saya benar-benar muak
melihat kelakuannya. Apalagi kalau dia membawa perempuan yang entah darimana
asalnya menginap beberapa hari dirumah. Meski kami masih sering bertatap muka,
tetapi kami sudah seperti orang asing saja. Dan, saya juga tahu ada sorot
kebencian dimata ayah ketika sedang menatap saya. Namun, saya acuh, cuek.
Berbeda
dengan saya, kepada dua orang adik saya, ayah bersikap biasa-biasa saja apalagi
kepada faiz, adik bungsu. Saya sering melihat mereka bertiga asyik ngobrol
diatas teras rumah. Saya tidak tahu dan memang tidak ingin mencari tahu apa
yang sedang mereka obrolkan. Karena tiba-tiba, saya juga benci kepada dua orang
adik saya itu. Dimata saya, faiz dan burhan yang lugu, polos, dan masih bersih
itu, telah berkomplot dengan ayah. Berkomplot dengan segala kebejatan moral
ayah. Saya benci mereka! Jadilah saya tidak punya orang dekat lagi dirumah.
Suatu
pagi, saat pulang kerja lembur, saya terkejut mendapati suasana rumah yang lain
dari biasanya. Dari pintu depan, tiba-tiba faiz berlari menyongsong saya, dan
sambil terisak-isak, ia mengatakan bahwa ayah meninggal dunia. Saya tidak tahu
apa yang sesungguhnya ada dalam benak saya, sebab sedikitpun saya tidak
terkejut mendengar kabar itu. Saya juga tidak merasa sedih kehilangan ayah.
Biasa-biasa saja, seperti tak pernah terjadi apa-apa.
Saya
kemudia masuk kedalam rumah. Tetapi, sepi. Tidak seperti layaknya kalau ada
kematian. Hanya ada beberapa tetangga dan teman-temanb dekat ayah yang sering
mangkal di gardu ronda. Saya maklum, orang-orang tentu banyak yang tidak
menyukai ayah. Karernanya,wajar jika ketika meninggalpun mereka enggan datang
kerumah kami.
Jenazah
ayah sudah dimasukkan kedalam peti. Sedikitpun saya tidak ingin melihatnya.”
Untuk apa?” jawab saya enteng, sekenanya, yang langsung disambut tatapan aneh
beberapa orang disekitar saya. Dan entah, tiba-tiba, saya merasakan ada
seseorang merenggut lengan saya, kuat, ditarik masuk kedalam kamar. “ Huss!
Jangan bikin malu! Ayahmu tertabrak truk ketika sedang menyebrang jalan, mau
solat subuh! Dua hari sebelumnya, ayah mu bilang kepadaku kalau dirinya sudah
taubat!” ucap Haji Biran sampai didalam kamar.
Solat
subuh? Tanya saya dalam hati, kaget, tak percaya. Sementara haji biran keluar
meninggalkan saya, saya masih terpaku ditempat. Saya bingung, gelisah, sedih,
kecewa, dan entah apalagi perasaan yang menyesak dalam benak saya. Sampai tiba
upacara pemberangkatan jenazah, rumah saya masih sepi. Yang hadir hanya itu-itu
saja, tidak lebih 16 orang. Itupun lebih banyak bekas teman-teman main judi
ayah. Wajah mereka tampah sedih. Entahlah kesedihan yang bagaimana. Tetapi,
saya masih sempat mendengar bisik-bisik diantara mereka, “untuk menghormati
wongso, si mati, tak ada salahnya nanti malam, ketika orang-orang tarawih di
masjid, kita main kartu disini!” yang lain
mengangguk-angguk.
